Kaba Minangkabau News
Kinari,- Menjelang Pilwana Nagari Kinari 2026, masyarakat dihadapkan pada pilihan penting yang akan menentukan arah pembangunan nagari selama enam tahun ke depan. Pilihan itu bukan sekadar soal siapa yang terpilih, melainkan tentang siapa yang paling mampu menjaga amanah, merangkul seluruh elemen masyarakat, dan bekerja untuk kepentingan bersama.
Bakal Calon Wali Nagari Kinari, Drs. H. Herdinal Padri atau yang akrab disapa Edi Magek Kayo, menegaskan bahwa Nagari Kinari tidak membutuhkan pemimpin yang hanya hadir saat pemilihan, melainkan pemimpin yang hadir dalam setiap persoalan masyarakat.
Menurutnya, jabatan Wali Nagari bukanlah simbol kekuasaan, tetapi amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan kepada Allah SWT.
“Nagari ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh kepentingan pribadi dan kelompok. Kinari harus dipimpin dengan hati, dijalankan dengan amanah, dan dibangun melalui kebersamaan,” tegasnya.
Edi Magek Kayo menilai bahwa tantangan pembangunan saat ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama yang hanya mengandalkan pemerintah nagari semata. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, pemuda, Bundo Kanduang, petani, perantau, dan seluruh unsur masyarakat dalam satu tujuan yang sama.
“Tidak ada nagari yang maju karena satu orang. Nagari maju karena masyarakatnya bersatu dan pemimpinnya mampu menjadi perekat, bukan sekat,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa masyarakat sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan. Pilwana bukan ajang mencari figur yang paling dekat dengan kekuasaan, tetapi mencari sosok yang paling siap bekerja dan paling mampu menjaga kepercayaan rakyat.
“Jangan memilih karena kedekatan sesaat. Pilihlah karena kapasitas, integritas, dan rekam jejak. Sebab satu suara yang diberikan hari ini akan menentukan masa depan anak cucu kita enam tahun ke depan.”
Sebagai nagari yang memiliki potensi besar di sektor pertanian, sumber daya manusia, dan kekuatan adat, Kinari menurutnya tidak boleh tertinggal dalam persaingan pembangunan. Pemerintah nagari harus hadir sebagai penggerak ekonomi masyarakat, memperkuat kelompok tani, membuka ruang kreativitas pemuda, memperbaiki pelayanan publik, serta memastikan setiap program pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Dengan mengusung semangat “Wali Nagari Kuat, Nagari Maju, Masyarakat Sejahtera”, Edi Magek Kayo menyatakan dirinya siap menjadi pelayan masyarakat, bukan penguasa masyarakat.
“Saya tidak datang membawa janji yang tinggi. Saya datang membawa niat baik, pengalaman, dan tekad untuk bekerja bersama seluruh masyarakat Kinari. Jika kita bersatu, tidak ada alasan Kinari tidak menjadi salah satu nagari terbaik di Kabupaten Solok.”
Di tengah dinamika Pilwana yang mulai menghangat, pesan yang dibawa Edi Magek Kayo cukup sederhana namun kuat: Kinari tidak membutuhkan pemimpin yang ingin dihormati karena jabatannya, tetapi pemimpin yang dihormati karena pengabdiannya.
(KMKN)


